Sabtu, 14 Januari 2012

Askep Gastroenteritis


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
       Gastroenteritis adalah perubahan fungsi unsur yang besar yang ditandai dengan ekskresi tinja lebih dari 200 gram/hari, biasanya berkonsistensi cair, lunak atau setengah padat dengan frekuensi defekasi yang lebih banyak. Gastroenteritis adalah masalah klinis yang sering ditemukan dengan penyebab yang bermacam-macam, termasuk kelainan imunologis, infektif, hormonal (Nurgoho, 2000).
        Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa dehidrasi disertai muntah. Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasa (Sowdent, 2005).
         Adapun komplikasi dari gastroenteritis yaitu dehidrasi, syok hypovolemik yang terdekompensasi, hipokalemia dengan gejala meteorisme, hipotermi, lemah, hipoglikemia dan intoleransi laktosa selinder sebagai akibat deferensi enzim iktosa karena kerusakan mukosa usus halus (Nursalam, 2005).
Angka kejadian gastroenteritis di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2007 di Indonesia, gastroenteritis merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun (Piogama, 2008).
Gastroenteritis dianggap akut kalau berlangsung kurang dari 7 hingga 14 hari dan kronik kalau berlangsung lebih dari 2 sampai 3 minggu. Gastroenteritis infeksius yang akut dan tersebar diseluruh penjuru dunia menyebabkan lebih dari 4 juta kematian setiap tahunnya pada balita, khususnya di negara berkembang dan menjadi penyebab utama malnutrisi kalori, protein dan dehidrasi (Deven, 2007).
Kematian akibat gastroenteritis yang jumlahnya jutaan, mayoritas disebabkan oleh hal sepele, yaitu habisnya cairan tubuh yang keluar karena buang air dan muntah. Hilangnya cairan sedikit demi sedikit oleh banyak orang dianggap hal biasa. Di pelosok desa terutama di daerah Jawa, bahkan ada yang menganggap bahwa anak gastroenteritis sebagai pertanda akan bertambah pintar. Padahal jika kekurangan cairan lebih dari 10% dari berat badan anak atau bayi akan menyebabkan kematian hanya dalam tempo tiga hari. Belakangan juga ditemukan retrovirus yang menjadi biang keladi munculnya gastroenteritis anak-anak di bawah usia 2 tahun. Ironisnya, belum ada vaksinasi yang dapat memperkuat daya tahan bayi atau anak untuk melawan kekuatan virus tersebut. Namun, ASI yang diisap bayi memiliki kemampuan untuk mengikis habis virus tersebut asal anak tetap diberi cairan pengganti yang hilang karena buang air dan muntah (Widjaja, 2002).
Diantara anak yang diperiksa di klinik perawatan setiap hari, gastroenteritis infeksius akut umumnya terjadi dan penularan antar manusia organisme yang paling sering terlibat dalam epidemic diare ditempat perawatan tersebut adalah Shigella, Giardia Lambia, dan Cryptos Poridium. Angka serangan sekunder yang berkisar antara 10 dan 20 % menggambarkan sumber infeksi yang penting bagi orang tua serta saudara sekandung (Khalik, 2007).
Data dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan menyebutkan, pada tahun 2001 angka kematian rata-rata yang diakibatkan gastroenteritis adalah 23 per 100.000 penduduk, sedangkan angaka tersebut lebih tinggi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun, yaitu 75 per 100.000 penduduk. Hasil survey pada tahun 2006 menunjukkan bahwa kejadian gastroenteritis pada semua usia di Indonesia adalah 423 per 1000 penduduk dan terjadi satu-dua kali per tahun pada anak-anak berusia di bawah lima tahun (Diah, 2008).
Berdasarkan data yang penulis dapat dari ruang anak Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara dinyatakan jumlah pasien di ruang anak dari Januari 2010 sampai dengan Juli 2011 adalah 353 orang. Diantaranya yang menderita gastroenteritis adalah sebanyak 175 orang atau dengan persentase 23 %.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk menjadikan kasus Gastroentritis ini sebagai bahan studi kasus dengan judul “Asuhan Keperawatan pada klien An. SY dengan Gastroenteritis di Ruang Perawatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara”.


B.     Tujuan Penulisan
  1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman belajar secara nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien “Gastroentritis” melalui perawatan yang komprehensif dan dapat membuat laporan pelaksanaan pelayanan keperawatan dalam bentuk karya tulis ilmiah.
  1. Tujuan Khusus
a.       Mendapatkan gambaran tentang pengkajian keperawatan secara komprehensif pada pasien dengan Gastroenteritis.
b.      Dapat mengindentifikasi serta mendiagnosa masalah yang timbul pada pasien dengan Gastroenteritis.
c.       Dapat membuat rencana asuhan keperawatan.
d.      Dapat melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif.
e.       Dapat melaksanakan evaluasi terhadap keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diberikan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
f.       Dapat mendokumentasikan semua kegiatan asuhan keperawatan yang diberikan.

C.    Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu menguraikan data secara nyata dan objektif dengan cara mengumpulkan data, merumuskan masalah, memecahkan masalah dan mengevaluasi tindakan keperawatan.
Adapun teknik yang dilakukan untuk pengumpulan data yaitu : Studi kepustakaan adalah data ataupun teori-teori yang dapat digunakan baik secara medis maupun keperawatan yang berkaitan dengan “Gastroenteritis”. Studi kasus pengumpulan data yang didapat antara lain : Anamnese penulis tunjukkan pada klien, keluarga, perawat serta tim kesehatan lainnya yang berhubungan dengan pasien. Observasi yaitu pengamatan secara langsung terhadap perkembangan pasien baik dari segi medis atau perawatan dan seluruh terapi yang diberikan. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data dimana data-data didapatkan melalui dokumentasi/pencacatan yang dilakukan berkaitan dengan pasien buku laporan perawatn status pasien, catatan, register dan lain-lain.

D.    Sistematika Penulisan
Untuk lebih terarahnya penyusunan karya tulis ilmiah ini, maka penulis menyusun dalam lima bab, antara lain : Bab satu adalah pendahuluan, membahas tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab dua adalah tinjauan teoritis, membahas tentang konsep dasar yang  terdiri dari pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan asuhan keperawatan meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Bab tiga adalah tinjauan kasus merupakan gambaran pelaksanaan kasus yang penulis rawat di Ruang Perawatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara. Meliputi: pengkajian diagnosa keperawatan, pelaksanaan tindakan keperawatan dan evaluasi. Bab empat adalah pembahasan, membahas tentang kesenjangan yang penulis dapatkan antara tinjauan kasus dan teoritis. Bab lima adalah penutup merupakan kesimpulan dan saran-saran dan juga mencatumkan daftar pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar